Langsung ke konten utama

Resensi


Judul               : Bilangan Fu
Penulis            : Ayu Utami
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun terbit     : 2018
Cetakan          : Kedua
Tebal               : 562 hlm
No. Edisi          : 978-602-424-397-5

“Ápa yang tak selesai kau mengerti di sini, tak boleh kau tanyakan padaku di luar.”
__Suhubudi, Bilangan Fu

Bermula pada pengenalan tokoh Yuda, seorang pemanjat tebing yang memiliki sikap skeptis dan suka bertaruh. Pertemuannya yang tak sengaja dengan Parang Jati, mahasiswa geologi ITB semester akhir yang berjari 12, saat sedang mengambil peralatan pemanjatan, menjadi permulaan kisah yang padat. Mereka dipertemukan di rumah salah satu teman Yuda yang telah "pensiun" dari pemanjatan karena menikah. Hubungan di antara keduanya mewujud sebuah persahabatan, bahkan Yuda tak keberatan berbagi kekasihnya, Marja. Mereka bertiga terlibat dalam segitiga cinta istimewa.

Sandi Yuda, rasional, modern, tidak percaya takhayul, membenci televisi dan kota. Dalam kisah, Yuda banyak mengalami kejadian-kejadian ganjil, tepatnya ketika ia dan teman-temannya melakukan pemanjatan di Watugunung. Kisahnya bermula dari penemuannya akan sebuah rumus yang memunculkan sebuah bilangan gaib. Bilangan antara nol dan satu. Bilangan Fu, yang menyesaki tokoh utama tersebut. Yuda pun mimpi didatangi penunggu gunung itu yang berkaki serigala, memiliki payudara, dan berkelamin ganda. Makhluk itulah yang ia sebut sebagai Sebul. Kelak dalam kisah, Sebul inilah yang membisikkan bilangan fu. Bilangan yang mirip dengan obat nyamuk bakar. Sebailknya, Parang Jati, yang sangat menghargai alam. Ia memandang manusia modern sudah begitu congkak dan tidak menghargai alam. Kelak dalam kisah, ia memperkenalkan kepada Yuda sebuah pamanjatan suci. Ialah yang secara perlahan menyingkap misteri dan mengubah cara pandang Yuda.

Sepuluh tahun Bilangan Fu malah membuat novel ini semakin tangguh dan kritis. Dibandingkan dengan Saman dan Larung, Bilangan Fu jauh lebih berat dalam segi ide cerita, kritikannya, serta bahasa. Bilangan Fu seperti kitab. Ayu melakukan lumayan banyak penambahan kisah serta penajaman karakter tertentu. Termasuk yang dilakukan Ayu pada bab Parang Jati. Jika dalam cetakan pertama, pembaca dipaksa untuk lebih dalam memahami Babad Tanah Jawi dan cerita Jawa lain yang membuntutinya, cetakan kedua ini, melalui panjabaran kritis Parang Jati, ia memperkenankan hubungan antara cerita rakyat, wuku, dan inses. Kedalaman pemikiran Parang Jati bukan hanya menyodok hulu batin Yuda, tetapi juga kita sebagai pembaca (bahkan saya berani bertaruh untuk hal ini).

Beberapa bab selanjutnya dirombak sedemikian berbeda, namun tetap berwibawa. Sajenan diawali dengan penambahan kisah,  Bunyi Hu menyajikan perubahan pola pikir Yuda. Suhubudi mengupas lebih lanjut tentang lambang mirip obat nyamuk bakar itu: Bilangan Fu. Bilangan Fu adalah Hu. Yaitu bilangan sunyi. (Penjabaran yang dalam oleh Suhubudi saya jamin akan membuat kepalamu penuh). Antara Nol dan Satu rupanya menjelma kisah dengan judul Kritik Hu Atas Monoteisme. Keduanya adalah sama, yang bersumber dari catatan Parang Jati. Namun sangat disayangkan Ayu tak memunculkan lagi sejarah bilangan nol yang ada pada cetakan pertama. Quo Vadis dan Via Dolorosa sungguh menarik. Cara pandang Marja dan karakternya yang selalu berhasil menenangkan Yuda saya yakini mampu meluruskan kerumitan naskah novel ini. Dan tak salah. Ayu benar-benar menggunakan bahasa dan kebendaan dari naskah pertama menjadi sesuai dengan kenyataan zaman sekarang dengan adanya Indomart, tolak angin, dan lainnya. Spiritualisme Kritis menggantikan Neo Kejawan dengan isi cerita yang murni mengisahkan proses pemanjatan suci Parang Jati dan Yuda. Di puncak pemanjatan, Yuda dibuat tercengang dengan segumpal sedimen bertatah cangkang keong laut sekepalan, labirin, melingkar-lingkar. Begitu pun dengan bab-bab lain yang pada bagian tertentu mengalami penggemukan cerita maupun pengerucutan cerita atau bahkan penyederhanaan cerita. Pembaca pasti terpukau dengan apa yang telah dilakukan Ayu pada novelnya ini.

Cangkang keong laut sekepalan yang dari awal kisah novel ini terus disebut-sebut, menjadi gambar  pada sampul novel ini didesain menjadi lebih keren dan menarik. Cangkang keong itu menjadi menyerupai lambang bilangan fu dalam novel ini atau (sebaliknya saja) lambang bilangan bilangan fu yang menyerupai cangkang keong laut sekepalan itu. Hal lainnya yang cukup kecil, tetapi sebenarnya mampu menambah wawasan pembaca, yaitu tidak adanya tulisan yang menerangkan bahwa sampul buku menggunakan kertas buatan perusahaan yang menerima sertifikat dari organisasi pelestari hutan internasional yang diletakkan pada halaman identitas buku, seperti yang ada pada cetakan pertamanya. Seharusnya hal ini menjadi pengetahuan pembaca bahwa percetakan juga peduli terhadap kelestarian alam. Selain itu, ada yang lebih bisa dihilangkan lagi oleh Ayu, yaitu tentang kliping-kliping berita yang dikumpulkan Yuda. Tak semua kliping tersebut menarik untuk dicermati. Beberapa membuat malas membacanya dan bahkan mengacaukan pokok pikiran karena isi novel sudah cukup berat dan kompleks.

Revisi Bilangan Fu ini menjadi karya yang sungguh luar biasa bagi pembaca sastra. Banyak pesan dan makna yang kuat telah disampaikan Ayu melalui hal-hal kritis. Fu maupun Hu itu sendiri menjadi penguat antara yang modern dan spiritual. Ayu telah secara cerdas memadukan sejarah, mistik, budaya, agama, sains, dan filosofi. Ayu sekaligus memberikan cara pandang yang sebetulnya perlu pada zaman ini: sikap spiritual, namun kritis.


Komentar

  1. wow... yanti! Ikutan challenge-nya nih? Good luck.
    "Kedalaman pemikiran Parang Jati bukan hanya menyodok hulu batin Yuda, tetapi juga kita sebagai pembaca (bahkan saya berani bertaruh untuk hal ini)." Semoga aku tidak sendirian yg terkena sihir pemikiran Parang Jati. Hahaha.
    Mampir yuk di storylosophy.wordpress.com, tapi aku nggak bikin resensi Bilangan Fu. Belum, mungkin.

    - Shinta -

    BalasHapus
    Balasan
    1. aw aw aw.. bikin gih.. novelmu yg lagi dibaca juga boleh..

      Hapus
    2. pan kapan ya, masi males nulis hahaha. Tapi di blogku ada review buku lama sih hahaha

      Hapus
    3. that was cool loh, Shin... (blogmu)

      Hapus
    4. thank you yannnn... yuk aktifin blog hehehehe... klo pas ada topik asik utk nulis, yuk mari :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naskah Drama

LAKON










EMBUN DI PUCUK ASOKA (Drama Satu Babak)




AKTOR: 1.SARI (Istri Usman) 2.USMAN (Suami Sari) 3.NURMA (Anak Sari) 4.AJO (Tetangga/Teman Usman) 5.MELI (Tukang Kredit)








SET PANGGUNG: WARUNG UDUK LONTONG SAYUR DI DEPAN RUMAH. DINDING DEPAN RUMAH (JENDELA KAMAR – JENDELA DEPAN – PINTU RUANG TAMU) SEDERHANA. MEJA DAN KURSI PLASTIK TEMPAT MAKAN UDUK. ETALASE MAKANAN DI ATAS MEJA.



ADEGAN:
SARI TAMPAK SIBUK MENYUSUN MAKANAN DAGANGANNYA. WAJAH KHAWATIR, SESEKALI MENATAP KE JALAN. GELISAH. MEJA DAN KURSI PELANGGAN MASIH KOSONG.
SARI : (Masih terlihat gelisah dan khawatir. Berjalan ke sana kemari) Mana bang Usman ini! Semaleman nggak pulang-pulang. Dipesenin beli martabak sampe ganti hari belom keliatan juga bentuknya. (jengkel)
LELAH BERBICARA SENDIRI, SARI BERDIALOG DENGAN PENONTON.
SARI : Hei penonton! Ada yang liat laki saya nggak? (Maju ke pinggir panggung) Gitulah Usman. Suami saya yang gak jelas itu. Entah apa yang dia kerjain sampe gak pulang ke rumah. Entah mati di jalan, entah keca

PUISI

MIMPI

Seorang prajurit
Menodong pistol di kepalanya
Mulut komat-kamit
Mengunyah mantra:
                                    Hum ham hum
                                    Humlahumhum
                                    Setangkai mawar
                                    Berjajar di meja
                                    Tangkai digenggam
                                    Duri menancap dada
                                    Tangan bergetar
                                    Bumi lindu
                                    Humlahumhum
                                    Malam berkarat
                                    Sebentar siang
                                    Kuntum merekah
                                    Kuning putih ungu
                                    Dunia: merah
                                    Prajurit murka
                                    Melontar peluru
                                    Menghunus tombak
                                    Pada musuh di barat
         …